Dari Cuan Dividen BBRI hingga Emas Antam yang Tiba-Tiba Ambrol, Ini 5 Kabar Pasar Paling Ramai Dibicarakan
Investasi

Dari Cuan Dividen BBRI hingga Emas Antam yang Tiba-Tiba Ambrol, Ini 5 Kabar Pasar Paling Ramai Dibicarakan

- min baca

 
Dari Cuan Dividen BBRI hingga Emas Antam yang Tiba-Tiba Ambrol, Ini 5 Kabar Pasar Paling Ramai Dibicarakan

Akhir pekan ini pasar modal dan komoditas Tanah Air menyuguhkan warna yang cukup kontras. Di satu sisi, raksasa perbankan BRI membukukan kinerja moncer yang bikin investor sumringah. Di sisi lain, harga emas batangan Antam justru ambrol dan bikin banyak orang kaget. Berikut lima berita paling banyak dibaca sepanjang 24 jam terakhir hingga Jumat (24/7/2026).

1. Kinerja Ciamik BRI, Dividen Yield Tinggi Jadi Sorotan

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan laba bersih yang bisa diatribusikan ke pemilik sebesar Rp15,5 triliun pada kuartal I-2026, tumbuh 14% secara tahunan. BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai kinerja ini sejalan dengan ekspektasi dan tetap berkualitas sehat, di mana margin bunga bersih (NIM) tetap tangguh meski ada tekanan biaya dana, sementara biaya kredit (cost of credit) turun signifikan.

Yang menarik, BRIDS menyoroti valuasi BBRI yang berada di level PBV 1,4 kali untuk return on equity (ROE) di atas 18% dan dividend yield mencapai 10-12% — kombinasi yang disebut sebagai anomali historis besar. Pasar dinilai tengah memperhitungkan skenario pesimistis yang sebenarnya belum terjadi.

2. Harga Emas Antam Ambrol di Akhir Pekan

Kabar mengejutkan datang dari harga emas batangan produksi PT Antam Tbk (ANTM) yang terpantau ambrol pada Jumat (24/7/2026). Berdasarkan pemantauan di laman Logam Mulia, harga emas Antam turun sebesar Rp35.000 per gram, sementara harga buyback atau pembelian kembali oleh Antam bahkan tercatat merosot lebih dalam lagi. Penurunan ini menjadi sorotan tersendiri di tengah tren harga emas global yang biasanya dipandang sebagai aset safe haven.

3. Saham Bumi Resources Melejit Jelang Rilis Kinerja Kuartal II

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencuri perhatian dengan reli kuat menjelang pengumuman laporan keuangan kuartal II-2026. Pada perdagangan Kamis (23/7/2026), saham BUMI ditutup menguat 8,9% ke level Rp183, bahkan sempat menyentuh level tertinggi Rp196 dengan volume transaksi mencapai sekitar 12,1 miliar saham atau senilai Rp2,2 triliun.

Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menilai penguatan ini didorong oleh ekspektasi pasar terhadap kinerja kuartalan perseroan, sekaligus mulai diperhitungkannya potensi kontribusi dari aset non-batu bara BUMI yang telah memasuki tahap produksi.

4. Saham BCA Anjlok, Banyak Dilepas Investor Asing

Di sisi lain, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru tertekan cukup dalam, anjlok 3,46% ke level Rp6.275 pada akhir perdagangan Kamis (23/7/2026). Pelepasan saham ini banyak dilakukan oleh investor asing. CGS International Sekuritas mencermati adanya risiko tekanan lanjutan pada saham bank besar ini, meski peluang rebound tetap terbuka ke depan.

5. Grup Djarum Siapkan Tender Offer Saham SUPR di Harga Premium

Kabar korporasi juga datang dari langkah Grup Djarum lewat PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), yang mengumumkan rencana penawaran tender sukarela (voluntary tender offer) atas hingga 980.044 saham PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) di harga Rp45.000 per saham — jauh di atas harga pasar. Total nilai transaksi ini diperkirakan mencapai sekitar Rp44,1 miliar.

Langkah ini merupakan tindak lanjut dari persetujuan pemegang saham independen SUPR dalam RUPSLB pada 20 Mei 2026, terkait rencana perubahan status perusahaan dari terbuka menjadi tertutup (go private) sekaligus penghapusan pencatatan saham (delisting) dari Bursa Efek Indonesia.

Rangkuman Sentimen Pasar

Kelima berita ini menggambarkan dinamika pasar yang penuh warna dalam sepekan terakhir: optimisme di sektor perbankan lewat kinerja BRI, kejutan di pasar komoditas lewat anjloknya harga emas, gairah spekulatif di saham tambang seperti Bumi Resources, tekanan jual asing di saham blue chip BCA, hingga aksi korporasi besar dari Grup Djarum. Bagi investor, kombinasi sentimen ini menjadi pengingat pentingnya memantau berbagai sektor secara berimbang sebelum mengambil keputusan investasi.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.

#Investasi
Ditulis oleh

Inats Studio

Kontributor di Inats Finance, menulis seputar ekonomi, investasi, dan keuangan pribadi.

Komentar ()

Komentar