Minyak Dunia "Meledak" ke US$100/Barel, Serangan Houthi di Laut Merah Bikin Pasar Global Panik
Analisis-Pasar

Minyak Dunia "Meledak" ke US$100/Barel, Serangan Houthi di Laut Merah Bikin Pasar Global Panik

- min baca

Minyak Dunia "Meledak" ke US$100/Barel, Serangan Houthi di Laut Merah Bikin Pasar Global Panik

Harga minyak dunia kembali menyentuh level psikologis yang sudah lama tidak terlihat. Harga minyak Brent melonjak sekitar 7% dan menembus level US$100 per barel pada Kamis (23/7/2026), bertahan di level tersebut hingga Jumat pagi (24/7/2026), sebelum akhirnya melandai ke kisaran US$98,2 per barel. Ini menjadi kali pertama harga minyak menyentuh level tersebut sejak Mei 2026.

Serangan Houthi Picu Kepanikan Pasar Energi

Lonjakan harga ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran akan gangguan pasokan energi di Timur Tengah, menyusul serangan yang dilakukan kelompok militan Houthi — yang didukung Iran — terhadap kapal tanker di kawasan Laut Merah. Menyusul kabar serangan tersebut, Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberikan "hukuman militer besar-besaran" kepada Iran dan Houthi apabila terjadi serangan lanjutan terhadap kapal-kapal di Laut Merah. Trump bahkan mengaku tengah mempertimbangkan opsi "serangan besar-besaran" terhadap Iran.

Laut Merah, Jalur Vital yang Kini Terancam

Laut Merah belakangan menjadi jalur ekspor alternatif yang sangat penting bagi Arab Saudi untuk mendistribusikan minyaknya, terutama setelah terjadi gangguan di Selat Hormuz akibat konflik AS-Iran. Kondisi ini membuat eskalasi di Laut Merah berdampak ganda terhadap pasar energi global.

Akibat meningkatnya ketegangan ini, sejumlah importir minyak dari Asia dilaporkan mulai menjajaki opsi pengalihan rute pasokan minyak Saudi Aramco, dari yang biasanya melewati Laut Merah menjadi memutari Afrika lewat Terusan Suez. Namun, rute alternatif ini bukan tanpa konsekuensi — perjalanan logistiknya diperkirakan akan bertambah panjang sekitar 10 hingga 14 hari.

Sebagai gambaran betapa vitalnya jalur ini, Selat Bab el-Mandeb yang menjadi satu-satunya pintu masuk Laut Merah dari Samudra Hindia — dengan lebar hanya sekitar 32 km — dilintasi oleh sekitar 12% perdagangan global setiap harinya.

Ditambah Lagi, Pasokan Kazakhstan Ikut Terganggu

Selain kekhawatiran di Timur Tengah, kenaikan harga minyak turut didorong oleh kabar pemangkasan produksi minyak dari Kazakhstan. Hal ini terjadi setelah Caspian Pipeline Consortium (CPC) — terminal di pesisir Laut Hitam Rusia yang menyalurkan sekitar 80% ekspor minyak mentah Kazakhstan — menghentikan penerimaan pengiriman akibat serangan drone terhadap kapal tanker di kawasan Laut Hitam. Infrastruktur energi Rusia sendiri memang telah menjadi sasaran gelombang serangan drone Ukraina dalam beberapa bulan terakhir.

Kazakhstan merupakan pemasok minyak terbesar kedua ke Eropa, sehingga kabar pengurangan pasokan ini datang di saat yang kurang tepat — tepat ketika kilang-kilang Eropa tengah mencari alternatif pasokan di luar Timur Tengah.

Efek Domino ke Pasar Saham Asia, Termasuk IHSG

Lonjakan harga minyak ini turut menyeret bursa saham Asia ke zona merah, termasuk Indonesia. Berbeda dengan reaksi pasar di awal pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kali ini ikut tertekan cukup dalam, turun 1,88%, sejalan dengan pelemahan serentak di bursa Asia lainnya seperti Nikkei 225 (-2,79%), Shanghai Composite (-1,61%), dan Hang Seng (-0,98%). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut melemah 0,16%.

Pelaku pasar global dilaporkan cenderung lebih berhati-hati menjelang akhir pekan, seiring potensi eskalasi lanjutan konflik di Timur Tengah, sekaligus menanti rilis kinerja emiten-emiten hyperscaler AI pekan berikutnya — dua variabel yang diperkirakan akan sangat menentukan arah sentimen pasar global ke depan. Dari dalam negeri, investor juga tengah memantau musim laporan keuangan kuartal II 2026 yang mulai ramai dirilis pekan depan.

Dampak Berantai bagi Perekonomian Global

Lonjakan harga minyak akibat gangguan geopolitik semacam ini berpotensi memicu efek berantai yang cukup luas — mulai dari kenaikan biaya logistik dan transportasi global, tekanan inflasi tambahan bagi negara-negara net importir minyak, hingga potensi pelemahan mata uang di negara berkembang seiring aliran modal yang cenderung berpindah ke aset-aset yang dianggap lebih aman. Bagi Indonesia sebagai salah satu negara dengan porsi impor minyak yang signifikan, dinamika ini menjadi salah satu faktor risiko yang perlu terus dicermati dalam beberapa pekan mendatang.


Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran atau rekomendasi investasi.

#Analisis-Pasar
Ditulis oleh

Inats Studio

Kontributor di Inats Finance, menulis seputar ekonomi, investasi, dan keuangan pribadi.

Komentar ()

Komentar