Kredit Bank Tembus Rp 8.600 Triliun, tapi UMKM Masih Jadi "PR" Besar OJK
UMKM

Kredit Bank Tembus Rp 8.600 Triliun, tapi UMKM Masih Jadi "PR" Besar OJK

- min baca

 

Kredit Bank Tembus Rp 8.600 Triliun, tapi UMKM Masih Jadi "PR" Besar OJK

Kinerja sektor jasa keuangan Indonesia, khususnya di industri perbankan, mencatatkan hasil yang cukup menggembirakan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan pertumbuhan kredit perbankan berhasil menyentuh angka dua digit. Namun di balik capaian tersebut, satu isu klasik masih menjadi pekerjaan rumah besar: akses pembiayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Kredit Tumbuh 11,5 Persen, Nilainya Tembus Rp 8.600 Triliun

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit perbankan nasional saat ini berada di level 11,5 persen, dengan total nilai penyaluran kredit mencapai sekitar Rp 8.600 triliun.

"Kalau dari OJK, beberapa hal terkait bagaimana kredit tumbuh ya, kredit perbankan tumbuh 11,5%, itu sekitar Rp 8.600 triliun," ujar perempuan yang akrab disapa Kiki ini saat ditemui di Gedung DPR RI usai rapat dengan Komisi XI di Jakarta, Senin (20/7/2026).

Menurutnya, capaian positif ini tidak lepas dari koordinasi yang solid antaranggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yang terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), OJK, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dalam menjaga stabilitas sektor jasa keuangan nasional.

Kualitas Kredit dan Likuiditas Perbankan Tetap Terjaga

Kiki menegaskan, pertumbuhan kredit yang tinggi ini bukan sekadar angka semata, melainkan juga diiringi kualitas kredit dan ketahanan perbankan yang tetap berada di level aman. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang masih terjaga, serta kondisi likuiditas perbankan yang dinilai masih memadai untuk mendukung ekspansi pembiayaan ke depan.

"Juga tadi disampaikan juga misalnya NPL-nya terjaga," ucapnya.

UMKM Jadi Sorotan Utama Komisi XI DPR

Meski demikian, di balik capaian pertumbuhan kredit yang solid tersebut, masih ada satu isu yang terus dipertanyakan oleh Komisi XI DPR RI dalam rapat kerja bersama OJK, yakni sejauh mana dampak pertumbuhan kredit tersebut benar-benar dirasakan oleh pelaku usaha kecil di lapangan.

"Tadi Bapak-Ibu di anggota Komisi XI banyak mempertanyakan tentang kredit UMKM. Jadi ini PR kita semua gimana nanti kredit UMKM bisa tumbuh. Kemudian terkait dengan dukungan terhadap UMKM," sebut Kiki.

Pertanyaan ini menjadi relevan mengingat UMKM selama ini dikenal sebagai tulang punggung perekonomian nasional yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, namun kerap masih menghadapi kendala dalam mengakses pembiayaan formal dari perbankan dibandingkan pelaku usaha berskala besar.

OJK Siapkan Program Strategis untuk Perdalam Pasar Keuangan

Menjawab tantangan tersebut, OJK menyatakan komitmennya untuk terus mendorong sejumlah program strategis guna memperdalam pasar keuangan sekaligus memperluas jangkauan kredit bagi pelaku UMKM di seluruh Indonesia.

"Program-program apa yang kita sampaikan ya misalnya pendalaman pasar," tutup Kiki.

Dengan pertumbuhan kredit yang tetap solid dan kualitas aset perbankan yang terjaga, tantangan berikutnya bagi OJK dan otoritas terkait adalah memastikan derasnya aliran kredit tersebut juga benar-benar dirasakan oleh pelaku usaha kecil, bukan hanya terkonsentrasi pada segmen korporasi dan usaha besar semata.

#UMKM
Ditulis oleh

Inats Studio

Kontributor di Inats Finance, menulis seputar ekonomi, investasi, dan keuangan pribadi.

Komentar ()

Komentar