Sempat Jadi Raja Sejenak, Apple Gugurkan Dominasi Nvidia yang Bertahan Setahun Lebih
Berita-Ekonomi

Sempat Jadi Raja Sejenak, Apple Gugurkan Dominasi Nvidia yang Bertahan Setahun Lebih

- min baca
 Apple Gugurkan Dominasi Nvidia yang Bertahan Setahun Lebih


Persaingan sengit di jajaran perusahaan teknologi raksasa dunia kembali memanas. Pada Jumat, 17 Juli 2026, Apple sempat menggeser Nvidia dari posisi perusahaan publik paling bernilai di dunia, gelar yang selama ini dipegang produsen chip AI tersebut sejak Juni 2025 ketika mereka melampaui Microsoft.

Detik-detik Pergantian Takhta

Momen pergantian posisi ini terjadi di tengah aksi jual saham yang menekan sejumlah perusahaan penerima manfaat terbesar dari lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI), termasuk Nvidia sendiri. Saham Nvidia sempat anjlok sekitar 3,9 persen begitu perdagangan dibuka pada Jumat pagi, membuat nilai pasarnya melorot ke sekitar 4,82 triliun dolar AS.

Di saat yang sama, saham Apple nyaris tidak bergeming—hanya turun kurang dari 0,1 persen—sehingga kapitalisasi pasarnya yang berada di kisaran 4,88 triliun dolar AS berhasil melampaui Nvidia. Untuk sesaat, produsen iPhone itu resmi menyandang status perusahaan paling berharga di planet ini, sebuah posisi yang terakhir kali mereka pegang sejak April tahun lalu.

Namun kemenangan itu tak berlangsung lama. Nvidia berhasil memangkas kerugiannya menjadi sekitar 2,2 persen di sepanjang hari perdagangan, dengan nilai pasar berakhir di kisaran 4,91 triliun dolar AS dan kembali unggul tipis di atas Apple menjelang penutupan pasar.

Mengapa Apple Bisa Mendekat?

Sepanjang tahun 2026, kedua raksasa teknologi ini mencatat perjalanan yang sangat berbeda. Saham Apple telah melonjak sekitar 22–23 persen, jauh melampaui kinerja Indeks Nasdaq 100 yang naik 13 persen dan Indeks S&P 500 yang menguat 8,9 persen. Sementara itu, saham Nvidia hanya tumbuh sekitar 7 persen pada periode yang sama.

Penguatan Apple didorong oleh optimisme investor terhadap strategi kecerdasan buatan perusahaan serta model belanja modal (capital expenditure) yang jauh lebih ringan dibandingkan para pesaingnya. Sebagai gambaran, Apple diperkirakan hanya menghabiskan sekitar 2,5 persen dari estimasi pendapatan 2026 untuk belanja modal, jauh di bawah rata-rata perusahaan hyperscaler yang mencapai 39 persen.

Sebaliknya, saham Nvidia justru tertahan karena perhatian investor mulai bergeser ke tahap baru pembangunan infrastruktur pusat data, yakni perusahaan-perusahaan chip memori dan infrastruktur seperti Micron Technology dan Sandisk.

"Apple dipandang sebagai perusahaan yang tertinggal dalam perlombaan AI karena tidak berinvestasi untuk mengembangkan model, tetapi sekarang sentimen telah berubah," ujar Toni Meadows, kepala investasi di BRI Wealth Management, seperti dikutip sejumlah media.

Siri Baru dan Lini Produk yang Dinanti

Momentum kebangkitan Apple ini juga bertepatan dengan sejumlah langkah strategis perusahaan. Bulan lalu, Apple memperkenalkan pembaruan besar-besaran untuk asisten digital Siri yang telah lama ditunggu, sebagai bagian dari upaya menyempit jarak dengan para pesaing di bidang AI.

Analis memperkirakan versi baru Siri yang lebih agentic ini akan resmi meluncur akhir tahun ini dan berpotensi mendongkrak permintaan perangkat Apple. Tak hanya itu, Apple juga dikabarkan tengah menyiapkan iPhone lipat pertamanya, iPhone Ultra, yang akan hadir berdampingan dengan iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max.

Momentum ini juga terjadi menjelang pergantian kepemimpinan di internal Apple, dengan CEO Tim Cook yang dikabarkan akan menyerahkan tongkat estafet kepada eksekutif hardware John Ternus pada September mendatang.

Sekilas Rekam Jejak Kedua Raksasa

Nvidia sempat mencatatkan sejarah sebagai perusahaan pertama yang menembus kapitalisasi pasar 5 triliun dolar AS pada Oktober tahun lalu. Di bulan yang sama, Apple juga mencetak rekornya sendiri dengan menembus kapitalisasi pasar 4 triliun dolar AS untuk pertama kalinya, didorong oleh penjualan iPhone yang kuat.

Meski posisi puncak sempat berpindah tangan hanya dalam hitungan jam, persaingan ketat ini menegaskan satu hal: peta persaingan di industri teknologi global tidak lagi didominasi oleh satu pemain saja. Investor kini mulai melihat lebih luas dari sekadar penerima manfaat langsung ledakan AI seperti Nvidia, dan mempertimbangkan kembali perusahaan-perusahaan seperti Apple yang punya basis pengguna raksasa serta strategi AI yang lebih efisien dari sisi biaya.

#Berita-Ekonomi
Ditulis oleh

Inats Studio

Kontributor di Inats Finance, menulis seputar ekonomi, investasi, dan keuangan pribadi.

Komentar ()

Komentar